Minggu, 02 Agustus 2015

Sahabat kelabu

Sahabat Kelabu

Hari ini seperti hari biasa bagi sebagian orang, namun hari ini terasa menyenangkan untukku. Hari ini adalah hari dimana Kevin, sahabatku berulang tahun. Hari ini aku mengenakan gaun merah yang indah dengan mahkota yang dirangkai dari bunga mawar kecil yang berbahan dasar plastik. Aku meyakinkan diriku bahwa aku sudah siap menemui Kevin sahabatku, dengan menyisir rambut lurusku didepan cermin besar di kamarku. "Sungguh cantik!" bisikku dalam hati. Aku kemudian merangkai beberapa tangkai bunga yang sudah lebih dulu kupetik, dan merapikan daun-daunnya. Hari ini hari yang spesial dan aku tak mau melewatkannya. Aku keluar dari kamar dan mendapati ibuku yang sedang duduk bersantai di teras rumah. Aku kemudian berbalik arah dan menuju pintu keluar di dapur, aku tak mau ibuku mendapati aku yang ingin bertemu dengan Kevin dan menghadiri pesta ulang tahunnya. Aku memang sangat dekat dengan Kevin, keluarg kami juga sangat akrab layaknya saudara, ibukku tahu akan hal itu, namun belakangan ini ibu tak suka aku membahas masalah Kevin, atau membahas hal-hal yang melibatkan sahabat kecilku, Kevin. Kemudian kulepas sepatu merahku dan mulai berjalan tanpa alas agar tak menimbulkan suara, dan aku berhasil keluar.

Kevin pasti sangat senang jika aku datang di acara pentingnya, aku sangat menyayangi Kevin, dan Kevin juga pasti menyayangiku. Kami tidak pernah ingin saling meninggalkan ataupun saling melupakan. Aku bernyanyi pelan sepanjang perjalanan, menunjukkan kepada semua orang bahwa aku sangat bahagia bisa menghadiri ulang tahun sahabatku Kevin. Aku mengayun-ayunkan seikat bunga yang sudah kurangkai indah, sambil tersenyum kepada beberapa orang dijalanan. Aku sangat bahagia, dan ini akan menjadi hari yang indah!

Namun, aku mulai tersadar bahwa seseorang telah mengawasiku dari kejauhan, entah itu sengaja maupun tidak, aku mulai mempercepat langkahku dan menghentikan laguku. Orang itu tidak bergerak! Hanya memandangku dari kejauhan, lebih kelihatan bingung daripada mengawasi. Orang itu mulai mendekat dan menarik lenganku dengan keras! "Apa yang kau lakukan? kemana kau akan pergi?" Ia menanyaiku, aku mengenalnya, namun aku tak mau seorangpun tau kemana aku akan pergi, karena memang tak seorangpun menizinkaku pergi menemui Kevin. "Aku hanya berjalan-jalan dan mencoba gaun baruku paman, ibuku membelikannya untukku, juga seikat mawar yang cantik ini barusaja kupetik dari kebun mawar dibelakang rumahku" kataku gugup. "Pulanglah!! jangan keluyuran!", "Baiklah paman, tinggal 1 blok yang belum kulalui". Pamanku akhirnya meninggalkan aku, dan itu melegakan. Namun, aku tak sepenuhnya yakin bahwa paman tidak aka pergi ke rumahku dan mengadukannya kepada ibuku. Semua orang dikeluargaku tahu bahwa aku sering membicarakan tentang Kevin, bahkan keluarga Kevin pun juga melarangku untuk berteman dengan Kevin, dan aku membenci itu. Aku mulai berlari perlahan, karena aku mulai yakin bahwa paman akan kerumahku dan mengadukan hal ini pada ibuku, oleh sebab itu, aku harus secepatnya bertemu dengan Kevin dan memberinya ucapan selamat ulang tahun.

 Beberapa meter lagi adalah rumah baru Kevin, dan aku sudah sangat siap untuk mengejutkannya dihari ulang tahunnya. Aku tahu, Kevin pasti sangat bahagia, dan aku tak sabar untuk melihat senyumnya kembali menghiasi wajahnya. Aku sudah tiba!
Aku melukis senyum manis diwajahku, berjalan menuju seorang anak laki-laki yang mengenakan setelan rapi dengan bunga merah kecil di sakunya sebagai hiasan. "Selamat ulang tahunKev, aku datang diulang tahunmu yang ke-12. Semoga kita akan selalu bersama, aku menyayangimu Kevin, jadilah Kevin seperti yang kukenal sejak kecil" tetesan air mataku memberontak ingin keluar disetiap kata-kataku, namun aku masih menahannya. "Terima kasih sudah datang di ulang tahunku, Anna! aku mencintaimu, dan aku takkan pernah meninggalkanmu. Kita selalu saling memiliki, dan aku akan tetap menjadi Kevin yang ada untukmu sejak kecil. Aku juga menyangimu Anna". Mata Kevin terlihat berkaca-kaca, namun ia memang pintar untuk menahan air matanya yang tetap ingin keluar. Senyuman manis itu kembali menghiasi wajahnya, menghiasi wajah pucatnya. Kujabat tanganya, dan Kevin memelukku erat, sangat erat. Aku akan selalu merindukan Kevin. Kevin melepaskan pelukannya, dan aku tersenyum kepadanya saat kevin akan pergi. Dan Kevin telah pergi!. Aku mengusap air mataku, kemudian meletakkan seikat bunga mawar indah yang kupetik dan kurangkai di atas gundukan tanah. Kemudian, kuusap batu nisan Kevin dengan penuh rasa cinta dan ku kirimkan do'a untuknya. "Kevin, kau tahu aku tak akan pernah ingin kehilanganmu. Aku selalu menyayangimu Kev" bisikku. Aku berdiri dan mendapati ibuku berdiri di pintu masuk pemakaman, ibuku menghampiriku dan memelukku penuh kasih sayang, sama seperti pelukan Kevin. Ibu membelai rambutku dan mencium keningku, dan berkata "Yang kita cintai suatu saat akan pergi meninggalkan kita, namun kita harus siap kapanpun hal itu akan terjadi. Karena yang kita cintai selalu tumbuh dan hidup di hati kita". Aku memeluk ibuku tanpa berkata-kata. Aku tersenyum dan melihat sosok Kevin di kejauhan melambaikan tangan dan tersenum kebadaku. Aku melepaskan pelukanku dan ibuku mengajakku kembali kerumah. Rumah dimana aku tinggal dan bermain sendirian, tanpa Kevin. 

~Mifandla